Perkembangan Sejarah Kepercayaan
Terhadap Tuhan Menurut Teori Evolusi
PEMBAHASAN
Pengertian Animisme
Animisme berasal
dari bahasa latin anima yang artinya jiwa atau roh. Yang beranggapan bahwa
setiap benda baik yang bernyawa ataupun tidak, adalah mempunyai roh. Yang dimaksud roh oleh masyarakat animisme tidak sama dengan pengertian roh
bagi kita. Tujuan mempercayai roh ini adalah untuk mengadakan hubungan baik
dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha
menyenangkan hati mereka dan menjauhi perbuatan yang dapat membuat mereka
marah. Bagi mereka roh adalah sesuatu yang sangat halus, yang menyerupai uap
atau udara. Roh mempunyai bentuk, umur, perlu makan, punya kehendak, punya
kekuatan dan sejenisnya. Roh-roh nenek moyang yang dianggap berkuasa akan
dihormati dan disembah. Keinginan-keinginannya dituruti dan selanjutnya
menimbulkan bentuk-bentuk ritus upacara penyembahan penyajian korban.
Keyakinan ini banyak
dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu.
Paham animisme
mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua,
atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut
tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini.
Banyak kepercayaan
animisme yang berkembang di masyarakat. Seperti, kepercayaan masyarakat Nias
yang meyakini bahwa tikus yang sering keluar masuk rumah adalah jelmaan dari
roh wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan. Atau, keyakinan bahwa roh
orang yang sudah meninggal bisa masuk kedalam jasad binatang lain, seperti babi
hutan dan harimau. Biasanya, roh tersebut akan membalas dendam terhadap orang
yang pernah menyakitinya ketika hidup.
Kepercayaan semacam ini
hampir sama dengan keyakinan reinkarnasi. Reinkarnasi sendiri tidak lain adalah
pemahaman masyarakat Hindu dan Budha yang percaya bahwa manusia yang sudah mati
bisa kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lain. Jika orang tersebut baik
selama hidupnya, biasanya ia akan ber-reinkarnasi dalam wujud merpati. Namun,
jika dikenal dengan perangainya yang buruk, maka ia akan kembali hidup dalam
wujud seekor babi.
Pemikiran Animisme
Sigmund Freud, psikolog sekuler, mengatakan bahwa
Animisme menjelaskan konsep-konsep psikis teori tentang keberadaan spiritual
secara umum. Animisme sebenarnya
berasal dari wawasan bangsa-bangsa primitif yang luar biasa tentang alam
semesta dan dunia. Bangsa-bangsa primitif menempati dunia bersama-sama dengan
begitu banyak roh. Bangsa primitif ini mampu menjelaskan keterkaitan proses
gerakan alam dengan gerakan roh-roh ini. Mereka juga memercayai bahwa manusia
juga mengalami ’animasi’. Manusia memiliki jiwa yang bisa meninggalkan
tempatnya dan memasuki makhluk lain. Karena itulah, manusia bisa menjelaskan
mengenai mimpi, meditasi, atau alam bawah sadar. Animisme adalah suatu sistem
pemikiran yang tidak hanya memberikan penjelasan atas suatu fenomena saja,
tetapi memungkinkan manusia memahami keseluruhan dunia. Menurutfilosof lain
seperti Tylor dan Comte, mereka menyebutkan bahwa animisme adalahtahap pertama
pembentukan agama. Dalam istilah mereka, peradaban itu dimulaidengan adanya
pemikiran animisme, kemudian berkembang menjadi agama.
Dalam pandangan Tylor, manusia memiliki substansi yang
sama yaitu keinginan untuk mengetahui keberadaan di sekitarnya. Manusia
primitif berusaha memahami dan menjelaskan berbagai fenomena-fenomena yang aneh
dan suara-suara yang dahsyat melalui pemikirannya. Tentunya, pengetahuan yang
mereka maksudkan bukan sekedar menyaksikan suatu fenomena yang aneh atau
mendengarkan suara yang dahsyat, tapi pengetahuan itu dihasilkan ketika hal
tersebut menjadi pandangan. Misalnya, jika sekedar mendengar petir, maka hal
ini tidak bisa disebut sebagai pengetahuan. Tapi, mendengar petir dan
meyakininya sebagai murka dari dzat tertentu, maka hal inilah yang disebut
sebagai pengetahuan.
Dari pengalaman-pengalaman yang manusia dapatkan
seperti di antara hidup dan mati atau di antara tidur dan sadar, ia kemudian
membedakan adanya dua hal yang berbeda; yaitu ruh dan badan atau jiwa dan
materi. Kemudian ia meyakini bahwa manusia memiliki dua keberadaan yang bisa
berpisah dan bersatu lagi. Badan dianggap hidup jika ruh berada bersamanya.
Kapan saja ruh berpisah dari badannya maka badan tersebut tidak memiliki
aktivitas sama sekali, ruh-lah yang merupakan sumber kehidupan dan aktivitas
manusia.
Keyakinan ini berlanjut menjadi khurafat atau
takhayul. Kepercayaan bahwa ruh adalah sumber gerak manusia melahirkan
pemikiran lain. Timbullah keyakinan bahwa ruh orang yang sudah meninggal bisa
memasuki jasad manusia lain atau bahkan memasuki jasad binatang. Selain itu,
lahir pula keyakinan bahwa ruh manusia bisa melakukan apapun terhadap manusia
yang masih hidup atau alam di sekitarnya, apalagi jika ruh tersebut berasal
dari jasad manusia yang terhormat.
Pengertian Dinamisme
Perkataan dinamisme
berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa
Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia
dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki
arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini
memiliki kekuatan ghaib yang bangsa primitif sebut dengan berbagai nama yang
berbeda-beda disetiap tempatnya. Orang Jepang menamakannya dengan ‘’kami’’,
orang India dengan hari atau shakti, dan dalam istilah ilmu agama yang
mengadopsi istilah orang melanesia, kekuatan tersbut dinamakan dengan ’’mana’’.
Sedang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ’’tuah’’. Sifat dari tuah
menurut mereka adalah mempunyai kekuatan, tidak dapat dilihat, bersifat netral
tidak baik dan dan tidak buruk, kadang dapat dikendalikan kadang tidak, tidak
mempunyai tempat yang tetap. Orang-orang primitif dengan bantuan dukun dan ahli
sihir memncoba memanfaatkan tuah yang ada dalam benda-benda tertentu dalam
dinamisme adalah kunci pokoknya.
Dalam paham ini ada benda-benda tertentu yang
mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Benda
yang mempunyai kekuatan gaib baik tentu akan disenangi, dipakai dan dimakan
agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi
oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya, benda yang mempunyai
kekuatan gaib jahat tentunya akan ditakuti dan dijauhi.
Dalam Ensiklopedi umum,
dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada
pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga
dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau
makhluk mempunyai daya dan kekuatan.
Maksud dari arti tadi
adalah kesaktian dan kekuatan yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini
mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api,
batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri.
Dinamisme lahir dari
rasa kebergantungan manusia terhadap daya dan kekuatan lain yang berada di luar
dirinya. Setiap manusia akan selalu merasa butuh dan harap kepada zat lain yang
dianggapnya mampu memberikan pertolongan dengan kekuatan yang dimilikinya.
Manusia tersebut mencari zat lain yang akan ia sembah yang dengannya ia merasa
tenang jika ia selalu berada di samping zat itu.
Sebagai contoh, ketika
manusia mendapatkan bahwa api memiliki daya panas, maka ia akan menduga bahwa
apilah yang paling berhak ia sembah karena api telah memberikan pertolongan
kepada mereka ketika mereka merasa dingin. Ia mengira bahwa api memiliki
kekuatan misteri yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia sehingga ia akan
menyembahnya.
Atau contoh lainnya,
seperti penyembahan masyarakat Jepang terhadap matahari. Mereka sangat
mengagungkan dan menghormati matahari karena mereka percaya bahwa matahari-lah
yang pantas disembah disebabkan kekuatan sinarnya yang memancar ke seluruh
dunia.
Karena sebab itulah,
mereka menyembah sesuatu selain Allah. Mereka menyembah Allah karena mereka
bodoh dan jahil dalam mengenal Tuhan.
Pemikiran Dinamisme
Manusia mulai menganalisa setiap peristiwa yang
terjadi di sekitarnya. Sebelumnya, manusia primitif mulai mengeluarkan
teori-teori tentang hakikat benda atau materi. Ia mulai menggabungkan antara
keberadaan ruh manusia dengan keberadaan benda lain seperti air, udara, api,
dan tanah.
Animisme berkembang lebih awal daripada dinamisme.
Animisme menitikberatkan pada perkembangan ruh manusia. Mulai dari sini,
manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang
sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup,
tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini
memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan
materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.
Menurut mereka, setiap materi memiliki kesamaan sifat
dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia.
Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya
sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena
itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses
menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar
tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini
sebagai bentuk kemurkaan api.
Selanjutnya, berkembanglah paham banyak tuhan, banyak
roh, banyak dewa, atau banyak kekuatan ghaib. Setiap kawasan bumi, hutan,
sungai, laut, atau bahkan ruang angkasa, semuanya diyakini memiliki kekuatan
tersendiri.
Pengertian Politeisme
Politeisme adalah bentuk peyembahan terhadap
makhluk-makhluk gaib yang punya nama dan bertugas mengatur jalannya alam ini,
yaitu para dewa. Perbedaan antara para dewa dengan roh adalah kalau dewa itu
lebih berkuasa yang disembah seacara umum, sedangkan roh tidak punya kekuasaan
dan kemuliaan seperti dewa, dan biasanya hanya disembah olej suku atau keluarga
tertentu. Dewa-dewa itu seringkali merupakan personifikasi dari kekuatan alam.
Masing-masing dewa mempunyai tokoh yang punya tugas-tugas tertentu dan
sifat-sifat kepribadian yang jelas. Sebagai contoh; ada dewa yang tugasnya
menerangi alam, seperti shamas dalam agama Babylonia, ra dalam agam mesir kuno,
surya dalam agama veda, dan mytra dalam agama persia kuno. Pada awalnya
dewa-dewa politeisme mempunyai kedudukan yang sama, tetapi karena adanya
hal-hal tertetnu maka beberapa diantaranya menjadi lebih berkuasa dan dihormati
daripada yang lainnya. Seperti dalam agama mesir kuno, dewa anom menjadi lebih
berkuasa setelah kota thebes menjadi ibukota. Demikian juga dewa zeus dalam agama Yunani, dewa
Jupiter dalam agama Roma serta trimurti dalam agama Hindu.
Dalam kepercayaan
ini hal-hal yang menimbulkan perasaan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai
oleh ruh-ruh, tetapi oleh dewa-dewa. Kalau ruh dalam animisme tidak diketahui
tugas-tugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai
tugas-tugas tertentu. Ada dewa yang bertugas memberikan cahaya dan panas ke
permukaan bumi. Dewa ini dalam agama mesir kuno disebut Ra, dalam agama India
Kuno disebut Surya, dan dalam agama Persia Kuno disebut Mithra. Ada pula dewa
yang tugasnya menurunkan hujan, yang diberi nama Indera dalam agama Mesir Kuno,
dan Donnar dalam agama Jerman Kuno. Selanjutnya ada pula dewa angin yang
disebut Wata dalam agama India Kuno, dan Wotan dalam agama Jerman Kuno.
Dalam paham politeisme, tiga dari
dewa-dewa yang banyak meningkat ke atas dan mendapat perhatian dan pujaan yang
lebih besar dari yang lain. Dewa yang tiga itu mengambil bentuk Brahma, Wisnu,
dan Syiwa. Dewa yang tiga ini dalam agama Veda disebut Indra, Vitra dan Varuna;
dalam agama Mesir Kuno dikenal dengan Osiris dengan istrinya Isis dan anaknya
Herus; dan dalam agama Arab Jahiliyah dikenal dengan al-Lata, al-Uzza, dan
Manata. Selain itu, dalam paham politeisme, ada satu dari dewa-dewa itu yang
meningkat di atas segala dewa yang lain, seperti Zeus dalam agama Yunani Kuno,
Yupiter dalam agama Rumawi, dan Amor dalam agama Mesir Kuno. Paham ini belum
menunjukkan adanya pengakuan terhadap satu Tuhan, tetapi baru pada pengakuan
dewa terbesar di antara dewa yang banyak. Paham ini belum meningkat menjadi
paham monoteisme, tetapi masih berada pada paham politeisme.
Pengertian Henoteisme
Henoteisme berarti seperti halnya
politeisme, tetapi dalam henoteisme terdapat satu dewa yang tidak hanya
berkuasa dan dihormati, tetapi dia juga dijadikan raja bagi para dewa-dewa
lainnya, sehingga dia juga disembah oleh dewa-dewa yang lain. Paham raja dewa
ini juga berubah menjadi dewa satu. Tuhan dari suku tertentu hilang diganti
oleh Tuhan Nasional, yang satu bagi bangsa yang bersangkutan. Tetapi hal ini
bukan merupakan monoteis, karena sembari mereka menyembah Tuhan yang satu
mereka juga mengakui Tuhan yang ada dalam sukunya dan suku yang lain. Contohnya
adalah agama pada bangsa Yahudi.
Henoteisme mengakui satu Tuhan untuk satu
bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai Tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme
mengandung paham Tuhan nasional.
Pengertian Monoteisme
Monoteisme adalah suatu
kepercayaan yang menganggap Tuhan itu hanya satu, dialah yang mencipta,
memelihara, dan kemudian menghancurkan alam semesta ini. Dia adalah penguasa
Tunggal yang berbeda dan berasal dari luar alam semesta ini.
Dalam masyarakat yang
sudah maju, kepercayaan yang dianut bukan lagi dinamisme, animisme, politeisme,
atau henoteisme, tetapi kepercayaan monoteisme, baik monoteisme praktis,
monoteisme spekulatif, monoteisme teoritis, maupun monoteisme murni.
Monoteisme praktis
adalah kepercayaan yang tidak mengingkari dewa-dewa lain, tetapi hanya satu
Tuhan saja yang diarah dan dipuja. Monoteisme spekulatif adalah kepercayaan
yang terbentuk karena bermacam gambaran dewa-dewa lebur menjadi satu gambaran
yang akhirnya dianggap sebagai satu-satunya dewa. Monoteisme teoritis ialah
paham yang mempercayai bahwa Tuhan itu Esa dalam teori, tetapi dalam praktek
dipercayai lebih dari satu Tuhan. Terakhir monoteisme murni adalah paham yang
menyatakan bahwa Tuhan itu Esa dalam jumlahnya dan sifat, dalam teori dan
praktek, dan dalam pemikiran dan penghayatan.